4 Kesalahan yang Sering Dilakukan Arsitek Saat Mendesain Website

Kata siapa website hanya bisa digunakan oleh para pelaku bisnis di bidang digital marketing? Anda yang bekerja sebagai arsitek pun juga dapat memanfaatkan website untuk mendapatkan klien sebanyak mungkin.

Namun, ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan oleh para arsitek dalam membuat website. Hanya karena sesuatu sering dilakukan, bukan berarti Anda juga wajib mengikutinya. Justru Anda harus menghindarinya apabila hal-hal tersebut cenderung bersifat salah.

Menggunakan Software Flash

Banyak website untuk arsitek yang dibuat menggunakan Flash, sebuah software buatan Adobe yang memungkinkan website Anda terlihat lebih “animated”. Namun, Flash memiliki beberapa kekurangan yang justru akan merugikan Anda sebagai arsitek, salah satunya adalah kesulitan yang dihadapi oleh search engine seperti Google untuk membaca teks embed pada website Flash. Jika Google tak bisa membaca teks, maka Google hanya akan memiliki sedikit informasi tentang website Anda. Jadi, ketika seseorang melakukan pencarian di Google, kemungkinan besar website Flash Anda tidak akan memiliki peringkat sebaik website lain.

Selain itu, Flash juga tidak dapat bekerja dengan baik pada perangkat mobile Apple, yakni iPhone dan iPad. Sistem operasi perangkat mobile Apple, yakni iOS, tidak mendukung Flash. Hal ini tentu bisa mengurangi jangkauan pengunjung Anda.

Website dengan Satu Alamat URL

Poin satu ini masih berhubungan dengan penggunaan Flash pada website. Ketika ada pengunjung yang menjelajah halaman-halaman pada website Anda, alamat URL pada browser tidak akan mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh karakter Flash yang bekerja seperti animasi interaktif, bukannya dokumen dengan berbagai halaman. Alhasil, orang-orang pun tak dapat melakukan linking terhadap konten spesifik yang ada pada website Anda. Dengan kata lain, hal ini mencegah orang lain atau klien potensial untuk membagikan karya Anda.

Hanya Mencantumkan Foto

Para arsitek sering hanya memasang foto untuk menunjukkan proyek-proyek yang telah mereka kerjakan. Bahkan foto-foto tersebut bisa memenuhi satu halaman penuh. Masalahnya, jika Anda tidak mencantumkan teks pada foto, Google tak akan bisa menggali informasi dari foto tersebut. Namun, dengan mencantumkan teks secukupnya pada foto, Google akan mampu menampilkan link website Anda di peringkat atas hasil pencarian mereka.

Oleh sebab itu, cantumkan teks pada setiap foto proyek arsitek yang Anda kerjakan. Tuliskan cerita singkat di balik proyek tersebut, misalnya seperti lokasi, tantangan yang dihadapi, hingga klien yang menggunakan jasa Anda.

Tidak Memiliki Lead Magnet

Salah satu tujuan membuat website adalah mendapatkan leads, yang nantinya bisa Anda follow up untuk menggunakan jasa arsitek Anda. Sayangnya, kebanyakan arsitek cenderung lupa dengan hal ini. Tingkat konversi mereka masih banyak yang kurang dari 1%. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan leads. Salah satu yang paling ampuh adalah dengan lead magnets, yang biasanya berupa downloads seperti guide, artikel, dan konten lain yang dapat memberi manfaat positif bagi klien potensial. Sebagai gantinya, pengunjung website harus bersedia memberikan alamat email mereka kepada Anda.

Mulai sekarang, tak ada lagi alasan bagi Anda untuk membuat website yang kurang optimal bagi bisnis arsitek Anda. Mengenali keempat kesalahan di atas dapat menjadi langkah awal untuk mendesain website yang tak hanya atraktif, tetapi juga mudah digunakan oleh pengunjung. Dengan begitu, Anda memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan klien dan proyek baru.